Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Bom Mengguncang Jakarta ( Lagi )

Sabtu, 15 Agustus 2009 | Label: , , | 0 komentar |

 

Lagi, Teror Bom Mengguncang Jakarta di Hotel Ritz Carlton, Hotel JW Marriot, dan Muara Angke. Masih segar kenangan buruk serangkaian teror ledakan bom di tanah air terutama ibukota Jakarta hingga menyisakan trauma berkepanjangan, kini pagi ini pukul 07.50, hal serupa mengguncang Jakarta kembali.

Tidak tanggung-tanggung, tiga ledakan di dua tempat yang berbeda menyeret kembali semua trauma, semua kekhawatiran, semua praduga dan semua ketakutan menghantui benak seluruh masyarakat indonesia.

Entah apa yang Allah inginkan bagi negeri ini. Fitnah dan fitnah terus menerus melanda. Kenapa mesti teror dan ledakan yang digunakan untuk berbicara?

Di liputan 6 SCTV dilaporkan: Menurut para saksi mata ledakan besar terjadi di dua tempat, Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriot. Puluhan korban terluka dalam ledakan kedua hotel mewah itu. Bahkan sedikitnya sembilan warga tewas. Kondisi di dua tempat hiruk-pikuk. Para penghuni dan karyawan yang berada di dalam hotel dievakuasi keluar lokasi. Sementara polisi sedang mengamankan kedua lokasi. Hingga kini belum diketahui asal usul ledakan di dua tempat tersebut.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian tentang jumlah korban akibat ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriot. Beberapa saksi menyebutkan mobil ambulans berkali-kali mondar-mandir membawa korban. Kaca-kaca di JW Marriot dan Carlton pecah. Asap tebal membubung dari lt.3 Ritz Carlton.

Sementara itu, tvone.co.id melansir laporan ledakan ketiga di di pintu tol Muara Angke, Jakarta Utara, sekitar pukul 10.15 WIB. Belum diketahui adanya korban dalam ledakan ini. Ledakan diduga berasal dari bom mobil.

Ledakan hebat itu mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas. Informasi petugas Kepolisian Resor Jakarta Utara, menyebutkan, peristiwa terjadi sekitar 10.30, Jumat 17 Juli 2009.

Sumber ledakan diduga berasal dari sebuah mobil yang terparkir di dekat kompleks perumahan toko di kawasan pelelangan ikan Muara Angke. ( sumber )


Journalism In Pluralisme Perspective

Senin, 11 Mei 2009 | Label: , , | 1 komentar |

SALAM DAMAI SELALU!

Komunitas Pemuda Perdamaian Surabaya (KAPPAS) dan Yayasan Lintas Agama (YLA) Jawa Timur menggelar acara menarik bagi kalian yang ingin berkesinambungan dengan dunia jurnalistik dan ingin mengetahui apa saja yang harus di persiapkan dalam membuat berita dan sebagainya. Tentunya dengan pesan damai disana. Jangan lupa untuk menghandiri acara yang sangat menarik dan tentunya sarat dengan education dan perdamaian. Dengan fasilitas yang baik dan narasumber yang berkompeten di bidangnya. 

Acara ini akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Minggu, 24 Mei 2009

Pukul : 07.00 WIB - selesai

Tempat  : Gedung SAC komplek IAIN Sunan Ampel Surabaya

Tema  : Journalisme in Prularisme Perspective ( menilik jurnalisme dalam pemahaman plural)

PEMATERI :

:: SUYANTO - Wartawan Harian Surya

:: M. ROMDLON - Wartawan Jawa Pos

:: LUKMAN HAKIM - Wartawan TRANS TV/TRANS 7

KEYNOTE SPEAKER :

:: ARIF AFFANDI ( Wakil Walikota Surabaya, mantan PEMRED Jawa Pos )

Dengan Cara :

:] Formulir pendaftaran bisa di ambil di skolah masing-masing ( untuk pelajar )

:] Atau bisa di download disini ( untuk umum)

:] Pengembalian formulir pendaftaran paling lambat tanggal 22 Mei 2009 di Jl. Gayungsari Barat    VI no. 03 Tlp. (031) 8274323

:] Atau contact ke OKY (08563023222 - mobile)

:] Dengan kontribusi tiap peserta Rp5.000,-

:] Faslitas : Sertifikat, Snack, Lunch, Ruang ber-AC

:] Foto 3 x 4 sebanyak 3 lembar

Buruan Daftar. TEMPAT TERBATAS!!!

"PEDE" Sometimes Becomes The Best Way

Rabu, 15 April 2009 | Label: , , | 0 komentar |

Ada satu kisah yang menceritakan tentang seorang gadis buta. Suatu hari ia bertemu seorang pesulap yang kemudian mengajaknya bermain sulap. Ajaib sekali bahwa sang gadis bisa menebak seluruh kartu yang diberikan sang pesulap. Kok bisa? 



Ternyata rahasianya ada pada kecerdikan sang pesulap. Dengan menggunakan beberapa tipuan, ia berhasil mengeluarkan potensi sang gadis untuk bermain sulap bersamanya. Tanpa ragu sang pesulap mengajak sang gadis bermain di hadapan keluarganya, di hadapan orang banyak. Kepercayaan diri sang pesulap yang begitu tinggi menular pada sang gadis buta. Sejak saat itu sang gadis merasa telah menjadi seorang bintang di rumahnya. Ini terjadi hanya karena ada orang yang memberinya kesempatan untuk bersinar sejenak dan merasa istimewa di depan keluarganya. Ia yang selama ini merasa menjadi beban dalam keluarganya kini merasa sejajar dengan mereka karena peristiwa itu.

Cerita tersebut menggambarkan bagaimana pentingnya rasa percaya diri (PD). Tapi, sebenarnya kita perlu tahu dulu kenapa ada orang, ada teman kita yang sepertinya sangat tidak percaya kepada dirinya sendiri? Coba analisis juga, kira-kira hal apa sih yang membuat kita jadi enggak minder? Apa sih yang menghambat diri untuk maju dan mengeluarkan seluruh potensi diri kita? Kenapa harus ada rasa ragu tiap kali ada keinginan untuk melakukan sesuatu?

Pengaruh lingkungan

Ternyata sikap tidak percaya diri ini muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita mengembangkan sikap dan pendapat negatif tentang diri kita. Mungkin juga sikap tidak percaya diri ini muncul sebagai akibat dari pengaruh lingkungan kita. Pengaruh yang seperti apa? Antara lain sikap lingkungan yang membuat kita takut untuk mencoba. Takut untuk berbuat salah. Semua harus seperti yang sudah ditentukan.

Karena ada rasa takut dimarahi ini, kita jadi malas untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari orang kebanyakan. Mau tunjuk tangan waktu guru melemparkan pertanyaan di dalam kelas... takut! Kadang malah mau jalan di hadapan orang banyak saja, malu setengah mati! Apalagi mau mengajak orang kenalan, mau say no to others, mau ikutan kursus, bergaul... takut! Wah... kalau serba takut, serba ragu, serba malas begini, apa jadinya kita nanti?

Sebelum terlalu jauh, tentu kita tahu berapa kali Thomas Alva Edison melakukan kesalahan sebelum akhirnya berhasil menemukan formula hebat untuk membuat lampu pijar. Dia kan tidak langsung berhasil ketika pertama kali mencoba, ya enggak?

So, what’s the point? Mungkin perlu ratusan kali gagal sebelum mencapai satu keberhasilan. Kesalahan bukan akhir hidup kita. Kesalahan sebenarnya hanya merupakan langkah menuju keberhasilan. Setiap kesalahan membawa kita semakin dekat dengan keberhasilan. Kalau kita meyakini hal ini, pastinya percaya diri kita juga enggak gampang terpengaruh oleh pandangan atau sikap negatif dari lingkungan kita.

Sebenarnya ada banyak cara untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri kita. Apa saja? Yang paling penting adalah banyak berhubungan sama orang-orang yang kita nilai punya percaya diri yang oke banget. Percaya diri ini bisa menular, lho! Kok bisa begitu? Ya, ternyata banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang pede bisa kita jadikan contoh buat kehidupan kita sehari-hari. Coba saja, kalau sehari-hari kita gaul sama mereka yang percaya dirinya tinggi, kita jadi tahu bagaimana ia bicara, bagaimana ia mengambil keputusan, dan perilaku-perilaku lain yang membuat ia tampak begitu meyakinkan. Kalau kita enggak gaul sama mereka, bagaimana kita tahu aturannya? Bagaimana kita bisa dapat contoh untuk bersikap? Jadi kerasa banget kan kalau sebenarnya kita perlu banget bergaul dengan orang-orang yang PD kalau kita merasa perlu meningkatkan rasa percaya diri kita.

Sayangnya, banyak banget di antara kita yang enggak bisa bangkit, atau merasa sudah cukup puas dengan dirinya saat ini. Padahal, rasanya dia punya potensi yang jauh lebih besar andai saja ia berani berubah. Alasannya enggak beda jauh sama yang sebelumnya: ada faktor lingkungan yang berperan cukup besar di sana. Coba deh kita perhatikan, biasanya sikap ini muncul karena ia berada dalam satu lingkungan yang sepertinya enggak merasa PD.

Meski begitu, cara yang paling utama untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri kita adalah kemauan untuk mengubah diri kita yang muncul tanpa ada paksaan. Fight to our live! Hanya kita yang bisa mengubah diri kita. Kalau kita mau meningkatkan percaya diri, coba bangkit dan keluarkan semua potensi diri kita. Yang penting, mau! Berikutnya cari lingkungan yang kondusif. Sama persis seperti cerita di atas bahwa yang kemudian bisa membantu kita meningkatkan rasa percaya diri adalah bantuan orang lain. Coba bayangkan, seandainya sang gadis enggak ketemu tukang sulap, mungkin dia akan selamanya merasa bahwa dirinya adalah beban buat keluarganya. Padahal, keluarganya kan enggak merasa begitu. Karena ada bantuan orang lain, ia jadi tahu bahwa ia juga punya kemampuan berharga buat keluarganya. Jadi, kalau kita memang ingin mendapatkan sesuatu, kenapa harus ditunda? Mulai aja dari sekarang.

RULLYA ARDHYANING TYAS PKBI Pusat (Sumber: Disadur dari ’Chicken Soup for The Soul’ by Michael Jeffreys)

Damai = Peace (?)

Selasa, 24 Maret 2009 | Label: , , | 0 komentar |


Ada satu alasan kenapa Israel menyerang jalur Gaza yaitu mereka mendapat serangan berupa roket kecil dari Hamas kepada penduduk Israel. Korban warga sipil israel tidak seberapa, namun dibalas dengan begitu massif korbannya. Wajarkah alasannya?

Irak dibombardir, apa saja yang penting dibom, hanguskan semuanya dulu, urusan dialog di belakang. Kenapa Amerika menyerang Irak, karena Irak dianggap menyimpan senjata nuklir. Alasan itulah yang dipakai negara ini dan merasa absah bin legal.

Roket Hamas yang menerang Penduduk Israel membuat mereka sangat dihantui ketakuan yang luar biasa dari tindakan hamas ini.

Karena merasa negara ini kuat baik teknologi dan persenjataan, masa kalah dengan kelompok sekecil Hamas. Maka pecahlah perang terbuka, menyerang dengan cara seperti biasa: Membabi buta, mencari tikus satu kelurahan di bombardir. Jadi apapun tindakan kekerasan itu ada alasan yang memberi cap sah melakukan tindakannya, setidaknya benar menurut kacamatanya sendiri.

***

Bagaimanapun hampir setiap kejadian kekerasan selalu ada upaya pembenarannya. Dalam bahasa psikologi *halah* disebut konpensasi.

Tidak usah jauh-jauh melihat ke Palestina, Irak atau kejadian perang di manapun. Di negara kita sendiripun demikian. Setiap tindakan kekerasan pasti ada sederet alasan yang melatar belakangi.

Kekerasan etnis di Sampit, Ambon dan lain-lain tanyakanlah kepada mereka yang memulai tindakan kekerasan itu, pasti ada alasan yang dianggap sah dan legal meski versi sendiri.

Begitupula kejadian yang baru berselang di Monas dulu, kekerasan itu tidak akan terjadi kalau tidak panas-panasi. Dipanas-panasi, merupakan pembenar yang bisa dijadikan alasan. Siapapun kalau dihina, dimaki, diteror pasti akan melakukan pembelaan dan pembalasan. Masih untung di monas korban hanya dipentungi, namun naas bagi warga Palestinya, dan Irak, mereka dibumi hanguskan. Atas nama kebenaran, atas nama Tuhan, atas nama ketidakadilan, atas nama etnis, atau politik sekalipu pokoknya whatever, semuanya bisa menjadi pembenar tindakan kekerasan.

Hemat saya, selama kekerasan yang dilakukan atas nama apapun labelnya, selama masih merasa benar jare dewek, bahkan mengatasnamakan perang suci namun dengan cara yang tidak suci, maka peperangan, menumpahkan darah akan mudah terlihat di televisi kita.

Jadi siap-siap saja tahun-tahun ke depan akan banyak tontonan kekerasan massif bermotif agama, etnis, idiologi dan lain-lain. Akan banyak bom dan roket berseliweran di atamosfir bumi ini.

Salam, damai, atau apalah istilahnya, hanya bisa dinikmati untuk kalangan sendiri. Sementara manfaat dari salam itu kurang berimbas kepada komunitas lain.

Mestinya, manfaat makan adalah untuk saat tidak makan. Demikian juga bisa dikatakan Agama selayaknya bermanfaat untuk kehidupan semua orang bahkan orang lain merasa aman, dan manfaat.

Sepertinya, salam dianggap hal yang tidak penting. Salam (damai) hanyalah milik sayur opor ayam yang bila tanpa daun salam, maka hambarlah rasa dan aromanya.


taken from http://santribuntet.wordpress.com/2009/01/04/salam-apa-daun-salam/

Nobel of Peace

| Label: , , , | 0 komentar |


Penghargaan Perdamaian Nobel adalah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan oleh penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel. Penghargaan ini diberikan pada orang yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat internasional, pendiri pergerakan perdamaian atau berusaha mengurangi atau melenyapkan peperangan.

Meskipun Penghargaan Nobel dalam Fisika, Kimia, Medis dan Sastra diberikan pertahun di Stockholm, Penghargaan Perdamaian diberikan di ibukota Norwegia Oslo. Komite Nobel Norwegia, yang anggotanya dipilih oleh Parlemen Norwegia, ditugaskan untuk menenjuk penerima Penghargaan Perdamaian ini, dan hadiah ini diberikan oleh ketuanya, Dr. Ole Danbolt Mjos.

Pada saat Nobel meninggal Swedia dan Norwegia masih dalam "persatuan perseorangan" di mana Parlemen Swedia bertanggungjawab penuh untuk kebijakan luar negeri (dan kebijakan domestik Swedia sebagai tambahan), dan Parlemen Swedia bertanggung jawab hanya untuk kebijakan domestik Norwegia. Alfred Nobel oleh karena itu membuat keputusan bahwa Penghargaan Perdamaian diberikan oleh Norwegia dan bukan Swedia untuk mencegah manipulasi proses pemilihan oleh kekuatan asing.

Tidak seperti Penghargaan Nobel lainnya, Penghargaan Perdamaian Nobel dapat diberikan kepada orang atau organisasi yang masih dalam proses penyelesaian masalah, dan bukan penyelesaian masalah. Dengan begitu, Penghargaan Perdamaian Nobel berbeda dengan seluruh penghargaan Nobel lainnya. Karena hadiah ini dapat diberikan kepada seseorang yang terlibat dalam proses perdamaian yang masih berlangsung, beberapa dari penghargaan tersebut sekarang ini tampaknya ada yang dipertanyakan, terutama ketika proses ini gagal untuk memberikan hasil. Contohnya penghargaan ini diberikan kepada Theodore Roosevelt, Le Duc Tho, dan Henry Kissinger yang lumayan kontroversial dan dikritik; yang terakhir mengakibatkan dua anggota komite yang tidak setuju mengundurkan diri. Komite Nobel juga menerima kritikan dari grup sayap-kanan yang melihat keputusan mereka berdasarkan bias dari sayap-kiri. Mereka terutama menyalahkan penghargaan ini diberikan kepada Yasser Arafat, yang mereka pandang sebagai pendukung terorisme.

Pada tahun 2007 Nobel Perdamaian diberikan kepada Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat yang memperingatkan dunia atas ancaman pemanasan global, dan IPCC. Banyak kalangan yang menduga hal tersebut dilakukan untuk menghapus streotipe buruk yang selama ini menempel pada lembaga Nobel. Nobel Perdamaian beberapa kali menimbulkan polemik karena diberikan kepada beberapa orang yang di kemudian hari sama sekali tidak menciptakan kedamaian.